JejakFaktual – Di tengah realitas pahit melambungnya harga kebutuhan pokok akibat nilai tukar rupiah yang terus keok, pemerintah justru sibuk melempar narasi penenang yang dinilai publik sangat kontradiktif! Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan percaya diri mengklaim bahwa kondisi fundamental ekonomi dan fiskal Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang “amat baik” berdasarkan acuan RAPBN KiTa. Klaim sepihak ini dilontarkan pasca-pertemuan dengan pimpinan DPR RI di Senayan pada Sabtu (6/6/2026).
Namun, klaim “amat baik” di level makro itu nyatanya berbanding terbalik 180 derajat dengan penderitaan rakyat kecil di level mikro! Menkeu Purbaya sendiri tak bisa menampik bahwa melemahnya rupiah belakangan ini telah sukses menghantam para pedagang tahu dan tempe. Akibat harga kedelai impor yang melonjak ugal-ugalan imbas rupiah yang loyo, keuntungan pengusaha kecil tergerus brutal, dan sebagian besar terpaksa menaikkan harga jual demi bisa bertahan hidup. Sungguh ironis bagi sebuah negara agraris!
Sadar posisinya mulai digoyang keresahan publik, Menkeu kini mengobral “jurus” baru berupa penguatan koordinasi kilat dengan Bank Indonesia (BI). Pemerintah berjanji akan menyatukan kebijakan moneter dan fiskal demi mengembalikan kepercayaan pasar. Targetnya pun terdengar sangat ambisius: mendongkrak rupiah secara signifikan agar tidak melemah lagi ke level yang lebih parah dari sekarang!
Purbaya menjanjikan, jika sinkronisasi ini berhasil, dampaknya akan langsung menyelamatkan dapur para ibu rumah tangga dari jeratan inflasi dan beban hidup yang mencekik. “Sehingga para pedagang tahu tempe dan ibu rumah tangga bisa merasakan harga yang lebih baik dan tidak terbebani lagi beban hidupnya,” dalih Purbaya.
Publik kini hanya bisa menunggu dan mengawal, apakah janji manis koordinasi moneter-fiskal ini benar-benar ampun menjinakkan harga pasar, atau sekadar kosmetik politik untuk menutupi kegagalan pemerintah dalam menjaga otot mata uang Garuda di hadapan dolar AS?
Gimana menurut kalian, gengs? Apakah kalian percaya rupiah bakal segera perkasa, atau janji Menkeu ini cuma penenang sesaat di tengah harga tempe yang makin mahal? Tulis opini kritis kalian!


















